Archive

Posts Tagged ‘belajar’

Pahlawan itu Ibarat Matahari

June 15, 2013 2 comments

“Jadilah seperti Matahari, terus ikhlas menyinari bumi, hanya terbenam untuk terbit di tempat yang lain..”.

Perjalanan menjadi seorang pahlawan adalah perjalanan waktu yang tidak ada habisnya. Yang ada, adalah menghabiskan waktu-waktu yang kita miliki. Bahkan, bukan sekedar waktu. Cinta, mimpi, harapan, keringat, semuanya, segalanya diperas habis. Sebabnya, pekerjaan Pahlawan bukanlah pekerjaan main-main.

Perjalanan menjadi seorang pahlawan, adalah perjalanan merangkai peristiwa. Hidup tidak terbatas pada pribadi. Fikir tak sebatas keluarga. Kerja tak sebatas visi personal semata. Bukan. Perjalanannya Read more…

Tetralogi Buru

July 27, 2012 3 comments

“Seorang terpelajar mestilah adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”

-Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia-

Novel bertemakan sejarah yang menarik. Setidak-tidaknya, membuat lebih mudah memahami bahwa perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan tidak semudah buku-buku sekolah bercerita, Ir. Soekarno di culik, di bawa ke Rengasdengklok, cekcok dengan golongan muda, kemudian di desak, akhirnya merdeka. Tidak. Sekali-sekali tidak. Pun novel sejarah ini cukup membuat keyakinan bertambah, kebangkitan nasional yang benar bukan atas dasar kelahiran Boedi Utomo kala itu, tapi lebih kepada Syarikat Dagang Islam. Tidak jauh-jauh melebar, bukan tentang itu tulisan ini di susun.

Terbagi ke dalam 4 buku, Tetralogi Buru, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan dengan Read more…

Sholat dan Gerakan (part. 1)

June 23, 2012 2 comments

Pergerakan?

“didiklah penguasa dengan perlawanan, dan didiklah rakyat dengan organisasi”
-Pramoedya Ananta Toer, Jejak Langkah

Perjalanan panjang sejarah negara Indonesia banyak terwarnai dengan banyak cerita perjuangan. Dari perjuangan paling tradisional, hingga perlawanan bertaraf modern pada zamannya. Organisasi. Di sebut sebut sebagai bentuk perlawanan yang paling efektif. Meskipun pada masanya, organisasi di bedakan menjadi dua kubu, modern, dan –tentu- tradisional. Kekurangan penulis yang tidak memahami apa beda antara organisasi modern, dengan organisasi tradisional. Sesedikit literatur yang terbaca, organisasi modern adalah organisasi yang sudah memiliki struktur, bendahara, sekretaris, dan lainnya, ya, sesimpel itu.

Sebelum jauh bicara organisasi, sebenarnya apa itu organisasi? Menurut James D. Mooney, “Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama”. Pendapat lain, Organisasi Menurut Chester I. Bernard, “Organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih”. Dengan penuh rasa cinta terhadap Indonesia, ada baiknya kita perlu melihat arti Organisasi dari Read more…

Categories: artikel Tags: , , , , ,

She Is One Of My Teacher..

November 19, 2011 5 comments

“lima menit ya Yan, buruan.. syuronya dah mau mulai.. ”

“lah..? lagi ujan deres Mbak.. – -9”

“Yan.. Hujannya masih hujan air kan..? mumpung masih air, masih bisa di tahan pake jas hujan.. “

Dan berangkatlah Cimanggis-Cilodong dengan di selimuti ‘badai’., ya, ba’da ashar itu.. sekitar 4-5 tahunan yang lalu..


Siapa anak ROHIS 103 angkatan 2006 yang gak kenal beliau..? Read more…

Categories: artikel, Daily Tags: , , , ,

Berat Mana..? Quran atau Handphone..?

October 8, 2011 6 comments

Pernah memakai kemeja yang berkantong dua..? di bagian dada sebelah kanan dan kiri..? tulisan ini hanyala tentang dua kantong itu. Satu hari, seorang pemuda berjalan dari sekre organisasinya menuju mushola fakultas yang jaraknya tidak terlalu jauh. Di kantong kemeja kirinya, tersimpan dengan manis Al-Quran kecil yang relatif lebih nikmat untuk menghafal, sedang di kantong kemeja sebelah kanannya tersemat Handphone kesayangannya yang sudah menemani sekitar 2 tahun.

Ada yang unik. Secara nyata, jelas dapat di lihat bahwa berat handphone, lebih besar di banding berat Quran kecil itu. Terlihat dari kondisi kantong sebelah kanan yang lebih tertarik ke bawah. Pertanyaannya.. kenapa saya menulis ini?

Hari itu, Read more…

Tentang Amanah

May 10, 2011 Leave a comment

Tentang amanah. Yah, sedikit bercerita. Amanah. Buat saya, itu dua kata. Aman, dan ah.

Aman : tentram, tidak terganggu, nyaman. Yang jelas, kata ini mengandung kenyamanan bagi objeknya. Tentunya seseorang yang bersama keamanan akan merasa tenang. Atau, kalaulah kita artikan keamanan itu sebagai petugas keamanan, tentunya seseorang akan merasa was-was. Mengapa? Sebab itu pertanda malu. Orang yang di giring sama petugas keamanan tentunya hanya dua kemungkinan, 1. Dia sedang mendapat keamanan berlebih, 2. Dia sedang mendapat masalah dan harus berurusan sama yang berwajib.

-ah : ada yang menarik dari variabel tambahan –ah ini. –ah atau yang semaknanya menurut saya, bisa menjadi dua arti. Saat orang sedang merasa lelah, atau ketika sedang mengeluh. Bahkan, bisa juga –ah itu menjadi kata-kata kasar yang tidak boleh kita sebutkan, khususnya untuk orang tua (cek Quran). Bisa mungkin kita maknai, orang yang bersama dengan kata –ah ini adalah beberapa orang, yaitu 1. Orang yang mengeluh, 2. Orang yang lelah, 3. Orang yang durhaka.

Dari situ, saya coba memaknai, dengan amanah manusia bisa mentransformasikan diri menjadi beberapa sifat, mulia, sia-sia, dan hina. Mungkin antum sudah memahami lebih paham dari uraian dua paragraf di atas. Buat saya, dengan amanah seseorang bisa menjadi mulia di mata Allah dan makhluk-makhlukNya. Bersama amanah bisa menjadikan hidupnya sia-sia karena hanya mengejar kehidupan dunia. Bersama amanah manusia bisa pula merubah hidupnya menjadi penuh dosa karena mengejar dunia dengan menghalalkan segala cara. Mengerikan memang, amanah. Tak heran Rasulullah menganjurkan untuk tidak memintanya. Buat saya, itu satu bentuk kecintaan Rasulullah pada ummat Islam. Pastinya beliau mengetahui akibat dari amanah jika pengembannya bukanlah seseorang yang tidak capable di bidang amanah itu sendiri. Subhanallah. Read more…

Belajar Dari Dora The Explorer

April 11, 2011 3 comments

“Berhasil, Berhasil, Hore..!!” :D

Tentu telinga kita semua tidak asing dengan nada khas dari film anak-anak asal Spanyol, Dora The Explorer. Sebuah siaran yang menyajikan hiburan untuk anak-anak dengan konsep perjalanan menuju suatu tempat, di temani seekor monyet bernama boots dan di ikuti oleh musuh yang bernama sweeper (afwan kalo salah nulis). Memang siaran ini di tujukan untuk anak-anak, bukan untuk remaja atau orang-orang tua. Namun, tidak ada salahnya kita mengambil hikmah dari film, sekalipun itu film Dora The Explorer.

Dalam setiap serialnya, Dora selalu memiliki kegiatan di tempat yang jauh. Setiap serial selalu menceritakan tentang perjalanan si Dora. Dora selalu melewati beberapa rintangan, seperti : hutan, jembatan rusak dan lain-lain. Dan menariknya, persiapan Dora selalu pas dengan segala apa yang akan di hadapinya ! saat medan jalan membutuhkan tali, si ransel tersenyum lalu mengeluarkan tali. Saat medan jalan membutuhkan senter, ransel lagi-lagi tersenyum dan mengeluarkan senter. Selanjutnya, di tengah perjalanan Sweeper selalu akan menggoda Dora mengancam akan mengambil barang berharga yang di bawa Dora. Yah, walaupun usaha si Sweeper hampir selalu gagal di tiap episode, dia tetap selalu muncul di episode berikutnya. Read more…

“Pesan Saya Cuma Satu, Jaga Wudhu..”

February 2, 2011 2 comments

Berbulan-bulan yang lalu, saya berkesempatan untuk mewawancarai, Hmm, lebih tepat dengan diskusi sepertinya, ya berdiskusi dengan seorang ikhwan yang cukup ‘menokoh’ bagi saya. Pertama kali jumpa sebetulnya sudah lama, namun dulu belum ada rasa kagum apa-apa, maklum, awal bertemu saya nggak komunikasi sama sekali. Sampai di acara Riayah Tarbiyah Thulabiyah di Yogya terakhir, di sesi pemberian penghargaan kepada kader berprestasi, beliau ini di panggil untuk mendapat hadiah karena prestasinya di kampus. Subhanallah.

Kebetulan sekitar Maret atau Juni saya agak lupa, saya berkesempatan untuk berdiskuis berdua dengan beliau, tanya banyak tentang kampus, bagaiman dakwah di kampus, perjuangan kader dakwah yang dengan rela masuk ke ranah publik dan sebagainya. Mengapa..? karena memang beliau sudah tentu lebih pengalaman dari saya. Dari sekian banyak cerita mengenai dakwah kampus di UGM, saya sampai pada titik meminta nasehat dari beliau. Sekedar nasehat ‘apa yang harus saya lakukan sebagai anak baru di dakwah kampus ini’. Jawab beliau ketika itu singkat, tidak terlalu panjang. ‘pesan saya buat antum Yan, jaga wudhu’. Itu saja, dan tanpa penjelasan.

Memang saya yang terlalu bodoh, tidak bisa langsung menyerap makna dari nasehat itu ketika di sampaikan. Terlalu banyak maksiat mungkin. Namun belakangan, semakin saya sadari memang pentingnya kita menjaga wudhu. Khususnya buat antum yang ngakunya ‘aktivis dakwah’, apalagi antum yang memang turun ke lapangan yang publik, nggak cuma ada orang ‘sejenis’ antum. Di tengah berbagai kesibukan, kepenatan diskusi mengenai negri, memanglah menjaga wudhu itu teramat sangat penting.

Teringat ketika Bilal bin Rabbah di tanya sama Rasulullah, ‘wahai Bilal, sesungguhnya apa yang kamu kerjakan..? sehingga membuat terompahmu sudah berada di surga..?’. Bilal tersenyum, tentu, kabar terindah tentang masuk surga, terlebih yang menyampaikan orang paling mulia sepanjang zaman. ‘aku hanya menjaga wudhu, ya Rasulullah..’ jawab Bilal. Ah, terenyuh rasanya hati. Sepertinya sangat mudah bagi Bilal untuk menjaga wudhunya. Bagaimana dengan kita..?

Bilal senantiasa menjaga wudhunya sehingga ia dihadiahi surga. Menjaga wudhu, berarti menjaga kesucian diri kita. Kesucian yang membuat syetan enggan mendekat. Kesucian yang membuat Allah mendekatkan kita denganNya. Maka, akar dari semuanya itu adalah kesucian diri, dan kesucian jiwa.

Kalau kita hidup di zaman ini, sulit rasanya menjaga kesucian jiwa. Terlebih banyaknya godaan ‘gratis’ bagi mata yang membuat hati ini ikut tenoda. Ya, merasa diperkosa oleh perempuan-perempuan miskin yang tak mampu beli baju dengan kain utuh. Namun, agaknya bukan tidak mungkin kita mengalihkan pandangan dari semua itu.

Terlepas dari semua itu, inilah yang saya tangkap dari nasehat ‘menjaga wudhu’ tadi. Ternyata ia memiliki akar makna : Jaga Kesucian.

Bagi para penuntut ilmu, kita pun seperti itu, tentu kita memahami sebaiknya ketika kita akan belajar, baiknya kita berwudhu terlebih dahulu. Mengapa..? karena ketika berada dalam kondisi berwudhu yang berarti dalam keadaan suci, Allah lebih dekat kepada kita. Dengan kedekatan Allah pada kita, tentunya menjadikan ilmu mudah menyerap, terlebih ilmu-ilmu itu kita tuntut dengan niat karena Allah. Coba katakan, kalaulah Allah sudah mendukung kita, apa yang mustahil..?

Pun, dengan terjaganya kita dalam kesucian dengan berwudhu, seharusnya menjaga pikiran kita pula dari pikiran-pikiran yang menjadikan batalnya kesucian itu sendiri. Mengapa..? jawabnya kembali kepada, karena Allah lebih dekat kepada orang-orang yang suci. Kalau Allah sudah dekat, apa syetan berani mendekat..? tentunya tidak, dan penjagaan Allah adalah sebaik-baik penjagaan yang pernah ada.

Begitu pula halnya untuk antum yang memang terjun ke ranah-ranah publik, ranah yang menuntut antum ‘lebih’ dalam hal profesionalitas. Tentu bahasan di sana lebih ‘menjijikkan’ dari tempat-tempat yang memang sudah ‘fahim’. Bukan tidak mungkin pula emosi jadi lebih sering terpancing, mengapa..? ya karena lawan bicara yang ada tidak semuanya sepaham dan sejenis, tapi itulah indahnya..! itulah perjuangannya..!

Dengan senantiasa menjaga wudhu, yang berarti menjaga kesucian dan Allah semakin dekat dengan kita, tentunya pemikiran-pemikiran yang kita curahkan adalah pemikiran yang memang ada campur tangan Allah di dalamnya. Mengapa..? sekali lagi jawabnya, karena syetan sulit masuk ketika kita menjaga kesucian. Dan bukankah keputusan yang melibatkan Allah itu keputusan yang baik..? keputusan yang melibatkan Allah maksudnya, mempertimbangkan baik buruk dalam pandangan Allah.

Terlebih keputusan, pendapat, pernyataan yang dikeluarkan berkaitan dengan ‘masyarakat yang masih awwam’. Tentunya kita dituntut lebih ‘bijak’ dalam berpendapat. Dan dengan menjaga wudhu itulah tentunya salah satu ikhtiar kita menjaga kedekatan dengan Allah, agar pendapat, pernyataan dan keputusan yang keluar dari lisan kita adalah pendapat-pendapat yang memang selaras dengan kehendak Allah.

Mudahnya, setiap sebelum syuro/rapat atau sekedar diskusi, usahakanlah berwudhu terlebih dahulu. Kelak pikiran akan jernih, dan Allah membantu kita melalui kejernihan itu tadi. Mengapa kita mesti dekat dengan Allah..? tentu kita menginginkan kemenangan yang memang penuh keberkahan, maka, mendekatlah pada yang Maha Memberi Kemenangan. J

Semoga kelak keputusan-keputusan yang kita ambil memang selaras dengan kehendak Allah.. amiin..

Wallahualam…

———————————-————————————————————————————————————–

Jazakallah khoir mas Imron..

semoga kelak saya mampu berprestasi di akademik juga dakwah..

salam hangat persaudaraan..

Depok, 2 Februari 2011

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 91 other followers